Semesta dalam Thales dan Anaximandros
A. Thales
Thales merupakan perintis matematika dan filsafat Yunani, beliau adalah seorang filsuf yang mengawali sejarah filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Thales mendapat gelar “Bapak Filsafat” karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat. Sebelum Thales, pemikiran Yunani dikuasai dengan cara berfikir mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan segala gejala-gejala yang ada di dalamnya tidak bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia. Thales mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yaitu “Apa sebenarnya komponen alam semesta ini?” dan ia sendiri menjawab air. Karena pertanyaannya itulah yang mengangkat Thales menjadi filosof pertama di dunia. Selain sebagai filsuf , Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi dan politik.
1. Air sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
Menurut Thales bahwa asal mula alam semesta adalah Air, karena air adalah pusat dan sumber dari segala kehidupan. Segala sesuatu bersumber dari air dan kembali lagi menjadi air misalnya tumbuh-tumbuhan dan binatang lahir ditempat yang lembab, bakteri-bakteri hidup dan berkembang ditembat yang lembab, dan bakteri pun memakan makanan yang lembab dan kelembaban itu bersumber dari air. Dari air itulah terjadi kehidupan (Manusia, binatang-binatang dan tumbuhan) bahkan tanah pun mengandung air.
Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Karena air adalah sumber kehidupan, dan tanpa air makhluk hidup pasti akan mati. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang. Argumen Thales ini merupakan argumen yang bukan hanya rasional tetapi observatif, meskipun pada zamannya dulu belum lahir ilmu pengetahuan yang segala sesuatunya itu baru dikatakan benar jika telah terbukti secara empirik dan observatif. Oleh karena itu thales berpendapat bahwa asal muasal alam semesta itu air dengan alasan yang kuat, thales telah membuka alam fikiran dan kenyakinan alam semesta serta asal muasalnya. Tanpa menunggu hadirnya penemuan ilmiah atau dalil-dalil agamis, bagi thales semua kehidupan berasal dari air bahklan air berasal dari air. Air adalah causa prima dari segala yang ada atau yang jadi, tetapi juga akhir dari segala yang jadi diawal air dan ujung air, atau dengan perkataan filosof air adalah subta (bingkai) dan subtansi (isi) bertitik tolak dari pemikiran tersebut. Tak ada jurang pemisah antara hidup dengan mati semuanya sama
Selain itu, ia juga mengemukakan pandangan bahwa bumi terletak di atas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang satu kali keluar dari laut dan kemudian terapung-apung di atasnya.
2. Pandangan tentang Jiwa
Seperti pendapat Thales mnegenai air dan dari air itulah terjadi kehidupan , maka berbicara tentang kehidupan tentunya menyangkut dengan jiwa, Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati.Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi.
B. Anaximandros
Anaximandros (610 – 547 SM) adalah murid dari Thales, usianya lebih muda dari thales tetapi meninggal dunianya 2 tahun lebih dulu dari Thales. Sama halnya dengan gurunya Anaximandros juga ingin mencari asal dari segalanya ia tidak menerima saja apa yang diajarkan oleh gurunya. Yang dapat diterima akalnya bahwa yang asal itu satu tidak banyak. Akan tetapi yang satu ini bukan air dan bukan suatu anasir yang dapat diamati oleh panca indra. Menurut Anximandros segala sesuatu itu berasal dari “to aperion”yaitu yang tak terbatas dan sesuatu yang tak terhingga.
1. To Apeiron sebagai prinsip dasar segala sesuatu
Meskipun Anaximandros merupakan murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan gurunya mengenai air sebagai prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat di dalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya, air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada di dalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris. Prinsip dasar itu haruslah pada sesuatu yang lebih mendalam dan tidak dapat diamati oleh panca indera. Anaximandros mengatakan bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron.
To apeiron berasal dari bahasa Yunani (a=tidak dan eras=batas). Ia merupakan suatu prinsip abstrak yang menjadi prinsip dasar segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu. Dari prinsip inilah berasal segala sesuatu yang ada di dalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan (yang panas dan dingin, yang kering dan yang basah, malam dan terang). Kemudian kepada prinsip ini juga semua pada akhirnya akan kembali
2. Pandangan tentang Alam Semesta
Dengan prinsip to apeiron, Anaximandros membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari to apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin sehingga yang dingin itu terkandung di dalamnya. Dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku. Yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut yang dingin itu kemudian terpecah-pecah pula. Pecahan-pecahan tersebut berputar-putar kemudian terpisah-pisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada pada pusat jagad raya, dengan jarak yang sama dengan semua benda lain.
Mengenai bumi, Thales telah menjelaskan bahwa bumi melayang di atas lautan. Akan tetapi, perlu dijelaskan pula mengenai asal mula lautan. Anaximandros menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah. Karena berputar terus-menerus, maka berangsur-angsur bumi menjadi kering Akhirnya, tinggalah udara yang basah itu sebagai laut pada bumi.
3. Pandangan tentang Makhluk hidup
Mengenai terjadinya makhluk hidup di bumi, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya bumi diliputi air semata-mata. Karena itu, makhluk hidup pertama yang ada di bumi adalah manusia. Karena panas yang ada di sekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan. Di ditulah, mulai ada makhluk-makhluk lain yang naik ke daratan dan mulai berkembang di darat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi makhluk pertama yang hidup di darat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk pertama yang naik ke darat adalah sejenis ikan yang beradaptasi di daratan dan kemudian menjadi manusia.
Manusia adalah suatu bagian dalam dunia ini yang ada setelah dunia dan segala makhluk hidup yang ada, itu dikarenakan tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa adanya bahan makanan dan lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu serta munculah Agama dan ilmu pengetahuan maka pandangan mengenai Alam Semestapun berubah.
C. Perspektif Alam Semesta dalam pandangan Sains
Proses penciptaan alam semesta merupakan suatu peristiwa yang selalui di pertanyakan. Siapakah pencipta alam semesta? Dan alam semesta terbentuk dari apa? Serta bagaimana alam semesta itu terbentuk? Dengan rasa penasaran ini, Manusia terus berusaha mencari jawaban yang pasti. Berbagai cara manusia lakukan untuk mendapatkan kepastian akan penciptaan alam semsesta. Para ahli sains berlomba-lomba membutikan akan penciptaan alam semesta, sehigga muncul berbagai teori yang menerangkan penciptaan alam semesta.
Pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos dan makrokosmos, mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang sangat kecil, misalnya atom, electron, sel, dan amoeba. Sedang makrokosmos adalah benda-benda yang sangat besar, misalnya bintang, galaksi, planet.
Dalam pandangan sains modern, pada awalnya alam semesta ini masih berupa kabut gas yang panas dan kemudian terpisah. Terpisahnya kabut gas ini merupakan proses awal terciptanya galaksi-galaksi. Dari pecahan-pecahan kabut gas tersebut selanjutnya melalui proses evolusi terbentuk miliyaran matahari dengan planet-planet, termasuk bumi yang kita huni ini. Ilmuwan cerdas yang pertama kali mengemukakan teori ini bernama Laplace dari Perancis dan Immanue Kant dari Jerman
Alam semesta merupakan ruang kosong maha luas tanpa batas, tanpa sinar terang, tanpa gaya apapun, tanpa gravitasi apapun, tidak ada pengertian atas dan bawah, juga tidak ada pengertian utara-selatan, timur-barat, yang didalamnya berisi 1 miliar galaksi dan tiap-tiap galaksi terdiri dari 100 miliar bintang, dimana tiap-tiap bintang adalah matahari dengan tata suryanya sendiri-sendiri.
Pandangan mengenai asal-usul alam dapat diamati dari berbagai pemikiran para saintis berabad-abad yang lalu. Dari gagasan-gagasan di atas maka lahirlah konsepsi bahwa sekitar 15 miliar tahun yang lampau di dalam ruang kosong luas tanpa batas terdapat sebongkahan besar inti atom padat meledak sangat dasyat melepaskan zat hydrogen kesegala arah menjadi galaksi-galaksi bintang, dengan proses pembentukan atom yang lebih berat, sehingga dibumi kita ini terdapat 106 unsur atom. Dan kini sisa energy ledakan itu mengakibatkan materi alam (galaksi-galaksi) saling menjauh. Gagasan mengenai asal-usul alam ini kemudian munculah teori yang sangat terkenal dalam proses peciptaan alam semesta yaitu Teori BigBang.
Ø Tahapan terjadinya Ledakan besar (Big Bang) sebagai berikut:
1. segera setelah terjadi dentuman besar, alam semesta mengembang dengan cepat hingga menjadi kira-kira 2000 kali matahari.
2. sebelum berusia satu detik, semua partikel hadir dalam keseimbangan. satu detik setelah dentuman, alam semesta membentuk partikel-partikel dasar yaitu elektron, proton, neutron dan neutrino pada suhu 10 milyar kelvin.
3. kira-kira 500 ribu tahun telah terjadi ledakan, lambat laun alam semesta menjadi dingin hingga mencapai suhu 3000 K. partikel-partikel dasar membentuk benih kehidupan alam semesta.
4. gas hidrogen dan helium membentuk kelompok-kelompok gas rapat yang tak teratur. dalam kelompok-kelompok tersebut mulai terbentuk protogalaksi.
5. antara satu dan dua miliar tahun setelah terjadinya dentuman besar, protogalaksi melahirkan bintang-bintang yang lambat laun berkembang menjadi raksasa merah dan supernova yang merupakan bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
6. satu diantara miliaran galaksi yang terbentuk adalah galaksi bimasakti yang didalamnya adalah tata surya kita dengan matahari sebagai bintang yang terdekat dengan bumi.
Peristiwa Big Bang yang ditenggarai menandai dimulainya penciptaan alam semesta itu bukan hanya sekedar teori, tetapi sudah menjadi keyakinan ilmiah para ilmuwan. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa galaksi-galaksi saling menjauh dengan kecepatan kira-kira 32 kilometer/detik untuk setiap jarak satu juta tahun cahaya, maka dapatlah diperhitungkan bahwa alam semesta ini tercipta dengan proses Big Bang antara 15-20 milyar tahun yang lalu.
Bukti ilmia kebenaran teori bigbang adalah: Adanya jumlah unsur hydrogen dan helium di alam semesta yang sesuai dengan perhitungan konsentrasi hydrogen-helium merupakan sisa dari ledakan dahsyat tersebut. Kalau saja alam ini tetap dan abadi maka hydrogen di alam semesta telah habis berubah menjadi helium.
sumber:http://merryflorencia.blogspot.co.id/2016/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html?m=1
Komentar
Posting Komentar