Manusia

Konsep Manusia Menurut Filsafat
Filsafat manusia adalah bagian atau cabang dari filsafat yang mengupas apa artinya menjadi manusia. Ia mencoba mengucapkan sebaik mungkin apakah sebenarnya menjadi makhluk manusia itu?
Konsep manusia dalam pandangan filsafat kajian tentang manusia merupakan kajian yang sangat menarik, karena menyangkut diri kita sendiri sebagai manausia. Kajian tentang manusia ini sudah cukup lama dilakukan sejak zaman para filosof kuno di Yunani. Mereka sudah berbicara tentang manusia, disamping juga berbicara tentang Tuhan dan alam semesta.
 Dalam filsafat dikatakan bahwa manusia terbentuk dari badan dan jiwa, itu tidak berarti bahwa manusia itu seakan-akan berdiri atas dua hal yang dihubungkan bersama-sama, dari dua bahan yang telah dicampur adukkan yang masing-masing dapat ditempatkan dan digambar secara terpisah .

1.    Aspek Manusia
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa manusia itu terdiri atas dua aspek yang esensial, yakni tubuh dan jiwa melihat peran dan fungsi dari kedua aspek yang saling berhubungan maka dapat dipersoalkan mana yang lebih penting, tubuh atau jiwa?Timbullah beberapa aliran, yaitu sebagai berikut:
a.         Aliran materialisme
Aliran materialisme berpendapat bahwa yang penting adalah tubuh manusia. Salah seorang tokohnya adalah Ludwig Feuerbach (1804-1872 ) ,berpendapat bahwa dibalik manusia tidak ada makhluk lain yang misterius yang disebut jiwa, seperti tidak adanya Tuhan dibalik alam ini.Filsafat yang dikemukakan oleh Ludwig Feuerbach tersebut secara filosofi bersifat materealis , secara religious bersifat ateis dan secara sosial ekonomibersifat sosialis komunis .

b.         Aliran Spiritualisme
Aliran spiritualisme berpendapat bahwa yang terpenting pada diri manusia adalah jiwa. Tokohnya adalah Plato (427-347) berpendapat bahwa jiwa lebih agung daripada badan, jiwa telah ada dialam atas sebelum masuk kedalam badan , jiwa itu terjatuh kedalam hidup duniawi , lalu terikat kepada badan dan lahirlah manusia yang fana.Dalam kerukunannya , jiwa dan badan tidak berdiri berdampingan secara setingkat , melainkan jiwa adalah sesuatu yang keaadaannya bergerak sehingga mempunyai taraf realitas yang lain jenis.Paham dari Plato yang sepiritualisme itu bersifat etis-religius.

c.         Aliran Dualisme
Aliran Dualisme berpendapat bahwa tubuh dan jiwa sama pentingnnya.Tokohnya yaitu Rene Descartes (1596-1650), yang mengatakan bahwa jiwa adalah subtansi yang berfikir sedangkan badan sebagai subtansi yang berkeluasan .Pandangan Dualisme ini dapat dibedakan atas pararelisme dan Monisme .Dalam pararelisme antara tubuh dan jiwa terdapat kesejajaran, keduanya sederajat.Adapun dalam monism antara tubuh dan jiwa telah terjadi perpaduan sehingga menunggal .Manusia disebut manusia yang sebenarnya bila tubuh dan jiwa merupakan kesatuan yang terpisahkan.


2.    Manusia itu Animal Rationale dan Animal Symbolicum
Menurut Aristoteles manusia didefinisikananimal Rationale yaitu seekor hewan yang dilengkapi dengan akal budi.Manusia merupakan animal simbolicum yaitu Dunia manusia merupakan yang ditafsirkan manusia tidak dilukiskan berdasarkan data-data biologis, melainkan perbuatan kebudayaannya.Manusia tidak menjadi manusia karena sebuah faktor di dalamnya, seperti naluri atau akal budi melainkan fungsi kehidupan yaitu pekerjaannya dan kebudayaannya.

3.      Manusia itu Mono pluralis
Notonagoro berpendapat bahwa manusia itu hakikatnya bisa dilihat dari tiga dimensi yaitu ;

a)         Dilihat dari susunan kodrat ,manusia itu terdiri atas jiwa dan raga.
b)        Dilihat dari sifat kodrat, manusia itu terdiri atas sifat individu dan sifat sosial.
c)         Dilihat dari kedudukan kodrat manusia adalah makhluk individu dan makhluk Tuhan.

4.      Raga dan Jiwa
Manusia di lihat dalam bagiannya yaitu raga dan jiwa. Yang di tunjukkan jiwa adalah bagian lahiriyah serta bagian jasmanian manusia, dan yang di tunjukkan jiwa adalah bagian dalam serta bagian yang bersifat kerohanian manusia.


Rene Descartes mengatakan bahwa manusia merupakan gabungan dari dua subtansi, yaitu subtansiyang dapat berfikir (jiwanya,rohani ),dan subtansi yang terhampar didalam ruang (raganya,jasmani). Substansi itu juga pernah diakukan filsuf lain. Plato misalnya, mengatakan bahwa jiwa manusia bersifat rohani dan merupakan sesuatu yang terpenjara di dalam raga jiwa. Dengan datangnya kematian, raga manusia akan lenyap, sedangkan jiwanya akan hidup terus. Raga akan lenyap karena mempunyai sifat jasmani.

sumber:http://afattahul.blogspot.co.id/2015/05/konsep-tuhan-dan-manusia-menurut.html?m=1

Komentar

Postingan Populer