10 Lagu Indie
10. Afternoon Talk - There's Only One Thing You Should Know

Gambar diambil dari : (sini)
Setiap mendengar lagu band asal Lampung yang satu ini, saya selalu terbayang akan kisah cinta dan perjuangan teman seperkuliahan saya, si Na... Well, saya nggak tega menyebutkan namanya :'D yang pasti, lagu ini mengingatkan saya akan Mocca di masa-masa awal debutnya dengan permainan musik yang masih polos dan vocal ceria. Iringan musik yang ditawarkan Afternoon Talk pun terdengarinnocent, layaknya makna yang ingin disampaikan lewat liriknya. Tidak salah memang bila lagu ini dijadikan soundtrack bagi para penggemar rahasia :3
"I wanna be, I wanna be with you,
in the middle of the rain,
when the thunders come and strain.
I will never ever steal your coat.
I'll be by your side to challenge the cold..."
9. Efek Rumah Kaca - December

Pertama kali kenal band ini pertengahan kelas 2 atau 3 SMP lewat karya mereka yang tersohor kala itu, apa lagi kalau bukan Lagu Cinta Melulu. Waktu itu saya otomatis membatin, damn, this song sure is good! lantas tanpa pikir panjang buru-buru mendownload karya-karya mereka (jangan contoh perbuatan ini, belilah CD yang asli untuk mendukung mereka terus berkarya). Selang beberapa lama, saya tak lagi mendengar dan mengikuti kabar mengenai band ini, sampai akhirnya, tahun lalu, di suatu sore yang hujan di bulan Desember, saya mendengar lagu ini dimainkan di kendaraan umum warna hijau yang saya tumpangi. Saya langsung tahu bahwa Efek Rumah Kaca yang membawakansingle itu, dan memang benar. Ada suasana khas yang selalu hadir dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan, tak terkecuali December yang bernada melankolis namun sarat makna, sekaligus merupakan soundtrack of the monthsaya di akhir tahun 2012, literally.
8. Hollywood Nobody - Telescope

Salah satu band indie yang sampai sekarang masih saya harapkan untuk diusung ke panggung Ngayogjazz! Well, band yang dibentuk tahun 2005 ini memang sudah lama menarik perhatian saya. Terbukti, begitu saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul Kiss the Pain Away beberapa bulan silam, saya langsung kepincut. Hanya saja, dari semua lagu mereka di album Everything Happens For a Reason yang sudah saya dengar dan lahap, Telescope (meski tidak terasa begitu nge-jazz), memang yang paling meninggalkan bekas. Permainan musiknya simply awesome, catchy, dan bagian reff-nya bikin ketagihan!
7. Tika and The Dissidents (featuring Anda) - Ol' Dirty Bastard
Saya selalu suka suara mendayu Anda sejak ia berduet dengan Melly Goeslaw dalam salah satu soundtrack Ada Apa Dengan Cinta berjudul Tentang Seseorang. Saya makin cinta dengan suaranya setelah ia menyanyikan Menghitung Hari versi laki-laki yang dijadikan soundtrack film peroket Acha Septriasa kala itu, Heart. Di sisi lain, vocal Tika tak pernah gagal membuat saya berdecak kagum: seksi, jazzy, dan serak. Bisa membayangkan jika kedua tipe suara yang sama-sama smooth ini beradu? Yap, keren!
Dari awal saja, lagu Ol' Dirty Bastard ini memang sudah lain. Tak seperti lagu Indonesia kebanyakan, Ol' Dirty Bastard secara terang-terangan berani menceritakan kisah cinta terlarang (aih~) antara laki-laki baya yang sudah beristri dan seorang gadis muda (secara luas, album The Headless Songstress memang berisi tentang kritik akan kejadian yang kian melekat dan berkembang di sela kehidupan masyarakat urban). Dibalut dalam musik yang seksi, suara Tika yang serak-serak manja, vocal Anda yang... manly, serta plot twist pada liriknya, lagu ini memang pantas berada di list!
6. The Trees and The Wild - Berlin

Banyak yang mengatakan Irish Girl adalah karya terbaik mereka sejauh ini, namun saya lebih merasa bahwa Berlin dan The Noble Savage adalah yang paling 'wah'. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya mesti meminta maaf kepada The Noble Savage, menghapus air mata di pelupuk, membawa Berlin selangkah lebih maju, dan mencantumkannya di sela-sela list absurd ini.
Walau saya baru belakangan tahu bahwa ternyata Berlin sudah memiliki MV resmi di youtube (saya pernah menceritakan sebelumnya bahwa saya memiliki konsep tersendiri untuk mewujudkan MV dari lagu ini, dan syukur-syukur kalau TTATW berkenan merekrut saya sebagai sutradara---sayangnya, saya sudah lebih dulu dilangkahi) yang mana pemeran wanitanya mengingatkan saya akan seorang teman sekelas di bangku kuliah, namun saya tak memungkiri bahwa, bagaimanapun, lagu ini akan selalu menjadi lagu yang wajib saya putar di kendaraan umum dikarenakan suasana melankolis yang ditawarkan serta petikan gitar yang mirip-mirip Misread-nya Kings of Convenience versi galau ndak bisa membuat saya melepasnya :')
5. Payung Teduh - Menuju Senja

Suka sekali perpaduan suara Mas Is dan harmonisasi musik Payung Teduh di lagu ini, entah kenapa suasananya jadi sedikit lebih kalem ketimbang di album pertama. Solo flute di pertengahan awal itu pun bikin senyum-senyum sendiri :3 yap, yap, Payung Teduh memang salah satu band indie dalam negeri yang paling saya sayangi. Lagu-lagu karangan mereka selalu cocok didengarkan sewaktu hujan, ditemani selimut dan secangkir kopi hangat. Liriknya juga jarang sekali mengungkit soal percintaan, kadang mereka bahkan hanya membicarakan alam. Yang saya suka, mereka selalu menampilkannya dengan gaya khas, dengan gaya paten milik Payung Teduh yang dihias sedikit riak-riak keroncong---dulu, saya termasuk pendengar yang salah menganggap bahwa Payung Teduh itu mirip atau bahkan sealiran dengan SORE, tapi makin ke sini, saya mampu merasakan perbedaannya, Payung Teduh lebih mengarah ke gaya folk mereka, sementara SORE dominan lewat jazz---sebagaimana yang mereka lakukan di lagu Menuju Senja ini, begitu rapat dan hati-hati :)
4. SORE - Mata Berdebu

Satu lagi karya brillian dari SORE! Meski lagu band kesayangan saya yang satu ini tidak seseksi In 1997 The Bullet Was Shy, tidak seromantis Karolina atau No Fruits For Today, tidak segalau Pergi Tanpa Pesan, tidak semisterius Bogor Biru, dan semacamnya, Mata Berdebu boleh saya bilang merupakan karya SORE yang paling memainkan perasaan, tidak hanya skill bermusik. Vokal Ade yang biasanya mendominasi, agak lebih selaras dengan permainan musik di lagu ini, terdengar lembut sekaligus parau. Liriknya pun tersirat, bisa berarti apa saja, tergantung yang menafsirkan. Tak heran bila di last.fm, karya mereka yang satu ini menempati posisi pertama dengan jumlah pendengar terbanyak.
Ayolah Ngayogjazz 2013, undang SORE band ke Jogjaaa :')
"Dan aku tak bisa melangkah di antara musafirnya.Dan aku rindu melangkah di duniamu.Di antaraku, janjimu terlunta."
3. White Shoes and The Couples Company - Senandung Maaf

Saya bingung banget memilih antara Matahari yang rancak dan kental nuansa Jaya Pura atau Senandung Maaf yang manis dan mendayu, tapi setelah menimbang ini itu dan itu ini, pilihan saya jatuh ke Senandung Maaf. Lagu yang menjadi soundtrack film Janji Joni inilah yang pertama kali mengenalkan saya dengan White Shoes and The Couples Company, dan, ehem, masih sering saya putar dan nyanyikan hingga saat ini. Sewaktu saya mendengarkan lagu ini untuk pertama kali, saya seolah terbang ke La La Land. Musiknya yang manis memang juara, diusung dengan sepercik pengaruh jazz, petikan gitar yang dipadankan dengan bass dan tabuhan drum, serta suara a la tahun 90-an ke bawah yang sedikit-banyak mengingatkan saya akan suara si penyanyi Burung Camar namun dalam versi lebih ringan, hingga tak pernah sanggup membuat saya menolaknya.
2. The Everyday - Surya Kembara

gambar diambil dari: sini
Ini adalah salah satu band indie yang berasal dari Yogyakarta, tempat tinggal saya :) Band beraliran groove dan jazz ini memukau saya lewat penampilan mereka di Ngayogjazz 2011 di Kota Gede, Yogyakarta. Waktu itu, saya tanpa pikir panjang langsung jatuh cinta dengan permainan musik mereka. Usut punya usut, ternyata mereka memiliki akun di reverbnation (buka di sini) yang kala itu baru terisi dua lagu, Let's Do It dan Kembali Rindu. Nah, baru-baru ini, seusai manggung di Ngayogjazz 2012, tersebar sudah single terbaru mereka, Surya Kembara (bisa didapatkan di CD kompilasi Ngayogjazz 2012) yang dalam waktu singkat membuat banyak orang terpikat, tak terkecuali saya. Mendengar lagu ini, saya serasa berada di Ubud atau Bedugul, menggunakan pakaian adat Bali, rambut dikepang ke samping, kamboja putih di telinga kanan, duduk menekuk kaki di depan, lantas menatap purnama utuh lurus berjuta tahun cahaya di atas kepala.
Saya sungguh berharap bahwa band satu ini akan semakin dikenal, mengingat betapa besar talent yang mereka miliki :)
Dan akhirnyaaaa...
1. Frau ft Ugoran Prasad - Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa

Gambar diambil dari: sini
Baiklah, saya akan menulis ulang apa yang sudah saya tuliskan di catatan facebook saya:
"Awalnya lagu ini diciptakan oleh Mas Ugoran Prasad, salah satu sastrawan muda favorit saya, untuk album Anamnesis, yang kemudian dia nyanyikan ulang bersama Frau. Liriknya kuat banget, seperti puisi---bahkan saya punya teori kalau ini memang musikalisasi, lagu yang berasal dari puisi. Ditambah lagi, alunan piano dari Mbak Frau dan suara gothic-nya benar-benar bikin iri."
Itu yang saya tuliskan pada pertengahan November satu tahun silam. Saya sudah mengenal Frau sejak kelas 2 SMA, dan permainan piano serta cara menyanyinya entah mengapa seakan membuat saya seperti terperangkap. Dari semua karyanya, Rat and Cat, Glow, I'm a Sir, Mesin Penenun Hujan, dan lainnya, duetnya dengan Ugoran Prasad memang yang berkarakter paling kuat. Suasana yang ditimbulkan memang gelap, yet pretty alluring. Piano solo Frau sudah ndak sepatutnya diragukan lagi memberi nyawa besar bagi lagu ini, diikuti suara Mas Ugoran yang sekilas terdengar mirip Bebi Romeo. Saking kerennya lagu ini, saya secara langsung menjadikannya sebagai inspirasi salah satu karya pribadi yang berjudul "Saya Mengenalnya Sebagai Jo" yang mengisahkan seorang wanita yang mengenal laki-laki asing bernama Jo, dan dalam kekaburan itu, mereka bercinta lewat cara mereka sendiri, lewat pikiran mereka sendiri di ruang angkasa yang juga mereka bangun sendiri. Cuplikannya kurang lebih seperti ini, "Saya mengenalnya sebagai Jo, begitu saja tanpa tahu nama panjangnya. Bisa jadi Jo adalah comotan pendek dari Paijo, atau Joko, atau Joshua, atau jangan-jangan Jo hanyalah kamuflase yang ia gunakan diam-diam sebab sebenarnya ia bernama Parmin, entahlah, saya tak ingin terlalu paham, karena mungkin saya memang sudah ditakdirkan mengenalnya cukup sebagai Jo."
Jadi, yah, hands down.
****
Bonus: Lagu Indie (Easy-Listening) Dalam Negeri Lain yang Juga Keren
Mind Deer - Humming Song

Monkey to Millionaire - Strange is The Song in Our Conversation

Pure Saturday - Di Bangku Taman

L'Alphalpha - About a Friend

The Milo - Romantic Purple

****
sumber: http://mylastpetrichor.blogspot.co.id/2012/12/countdown-10-lagu-indie-easy-listening.html?m=1
Gambar diambil dari : (sini)
Setiap mendengar lagu band asal Lampung yang satu ini, saya selalu terbayang akan kisah cinta dan perjuangan teman seperkuliahan saya, si Na... Well, saya nggak tega menyebutkan namanya :'D yang pasti, lagu ini mengingatkan saya akan Mocca di masa-masa awal debutnya dengan permainan musik yang masih polos dan vocal ceria. Iringan musik yang ditawarkan Afternoon Talk pun terdengarinnocent, layaknya makna yang ingin disampaikan lewat liriknya. Tidak salah memang bila lagu ini dijadikan soundtrack bagi para penggemar rahasia :3
"I wanna be, I wanna be with you,
in the middle of the rain,
when the thunders come and strain.
I will never ever steal your coat.
I'll be by your side to challenge the cold..."
9. Efek Rumah Kaca - December

Pertama kali kenal band ini pertengahan kelas 2 atau 3 SMP lewat karya mereka yang tersohor kala itu, apa lagi kalau bukan Lagu Cinta Melulu. Waktu itu saya otomatis membatin, damn, this song sure is good! lantas tanpa pikir panjang buru-buru mendownload karya-karya mereka (jangan contoh perbuatan ini, belilah CD yang asli untuk mendukung mereka terus berkarya). Selang beberapa lama, saya tak lagi mendengar dan mengikuti kabar mengenai band ini, sampai akhirnya, tahun lalu, di suatu sore yang hujan di bulan Desember, saya mendengar lagu ini dimainkan di kendaraan umum warna hijau yang saya tumpangi. Saya langsung tahu bahwa Efek Rumah Kaca yang membawakansingle itu, dan memang benar. Ada suasana khas yang selalu hadir dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan, tak terkecuali December yang bernada melankolis namun sarat makna, sekaligus merupakan soundtrack of the monthsaya di akhir tahun 2012, literally.
8. Hollywood Nobody - Telescope

Salah satu band indie yang sampai sekarang masih saya harapkan untuk diusung ke panggung Ngayogjazz! Well, band yang dibentuk tahun 2005 ini memang sudah lama menarik perhatian saya. Terbukti, begitu saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul Kiss the Pain Away beberapa bulan silam, saya langsung kepincut. Hanya saja, dari semua lagu mereka di album Everything Happens For a Reason yang sudah saya dengar dan lahap, Telescope (meski tidak terasa begitu nge-jazz), memang yang paling meninggalkan bekas. Permainan musiknya simply awesome, catchy, dan bagian reff-nya bikin ketagihan!
"We’re walking on a different tracks, heading to a different space and time.
I can see you’re doing okay, though i’ll be using telescope.
Capturing your moves, deliver love you might not received, not received."
7. Tika and The Dissidents (featuring Anda) - Ol' Dirty Bastard

Saya selalu suka suara mendayu Anda sejak ia berduet dengan Melly Goeslaw dalam salah satu soundtrack Ada Apa Dengan Cinta berjudul Tentang Seseorang. Saya makin cinta dengan suaranya setelah ia menyanyikan Menghitung Hari versi laki-laki yang dijadikan soundtrack film peroket Acha Septriasa kala itu, Heart. Di sisi lain, vocal Tika tak pernah gagal membuat saya berdecak kagum: seksi, jazzy, dan serak. Bisa membayangkan jika kedua tipe suara yang sama-sama smooth ini beradu? Yap, keren!
Dari awal saja, lagu Ol' Dirty Bastard ini memang sudah lain. Tak seperti lagu Indonesia kebanyakan, Ol' Dirty Bastard secara terang-terangan berani menceritakan kisah cinta terlarang (aih~) antara laki-laki baya yang sudah beristri dan seorang gadis muda (secara luas, album The Headless Songstress memang berisi tentang kritik akan kejadian yang kian melekat dan berkembang di sela kehidupan masyarakat urban). Dibalut dalam musik yang seksi, suara Tika yang serak-serak manja, vocal Anda yang... manly, serta plot twist pada liriknya, lagu ini memang pantas berada di list!
6. The Trees and The Wild - Berlin

Banyak yang mengatakan Irish Girl adalah karya terbaik mereka sejauh ini, namun saya lebih merasa bahwa Berlin dan The Noble Savage adalah yang paling 'wah'. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya mesti meminta maaf kepada The Noble Savage, menghapus air mata di pelupuk, membawa Berlin selangkah lebih maju, dan mencantumkannya di sela-sela list absurd ini.
Walau saya baru belakangan tahu bahwa ternyata Berlin sudah memiliki MV resmi di youtube (saya pernah menceritakan sebelumnya bahwa saya memiliki konsep tersendiri untuk mewujudkan MV dari lagu ini, dan syukur-syukur kalau TTATW berkenan merekrut saya sebagai sutradara---sayangnya, saya sudah lebih dulu dilangkahi) yang mana pemeran wanitanya mengingatkan saya akan seorang teman sekelas di bangku kuliah, namun saya tak memungkiri bahwa, bagaimanapun, lagu ini akan selalu menjadi lagu yang wajib saya putar di kendaraan umum dikarenakan suasana melankolis yang ditawarkan serta petikan gitar yang mirip-mirip Misread-nya Kings of Convenience versi galau ndak bisa membuat saya melepasnya :')
5. Payung Teduh - Menuju Senja

Suka sekali perpaduan suara Mas Is dan harmonisasi musik Payung Teduh di lagu ini, entah kenapa suasananya jadi sedikit lebih kalem ketimbang di album pertama. Solo flute di pertengahan awal itu pun bikin senyum-senyum sendiri :3 yap, yap, Payung Teduh memang salah satu band indie dalam negeri yang paling saya sayangi. Lagu-lagu karangan mereka selalu cocok didengarkan sewaktu hujan, ditemani selimut dan secangkir kopi hangat. Liriknya juga jarang sekali mengungkit soal percintaan, kadang mereka bahkan hanya membicarakan alam. Yang saya suka, mereka selalu menampilkannya dengan gaya khas, dengan gaya paten milik Payung Teduh yang dihias sedikit riak-riak keroncong---dulu, saya termasuk pendengar yang salah menganggap bahwa Payung Teduh itu mirip atau bahkan sealiran dengan SORE, tapi makin ke sini, saya mampu merasakan perbedaannya, Payung Teduh lebih mengarah ke gaya folk mereka, sementara SORE dominan lewat jazz---sebagaimana yang mereka lakukan di lagu Menuju Senja ini, begitu rapat dan hati-hati :)
4. SORE - Mata Berdebu

Satu lagi karya brillian dari SORE! Meski lagu band kesayangan saya yang satu ini tidak seseksi In 1997 The Bullet Was Shy, tidak seromantis Karolina atau No Fruits For Today, tidak segalau Pergi Tanpa Pesan, tidak semisterius Bogor Biru, dan semacamnya, Mata Berdebu boleh saya bilang merupakan karya SORE yang paling memainkan perasaan, tidak hanya skill bermusik. Vokal Ade yang biasanya mendominasi, agak lebih selaras dengan permainan musik di lagu ini, terdengar lembut sekaligus parau. Liriknya pun tersirat, bisa berarti apa saja, tergantung yang menafsirkan. Tak heran bila di last.fm, karya mereka yang satu ini menempati posisi pertama dengan jumlah pendengar terbanyak.
Ayolah Ngayogjazz 2013, undang SORE band ke Jogjaaa :')
"Dan aku tak bisa melangkah di antara musafirnya.Dan aku rindu melangkah di duniamu.Di antaraku, janjimu terlunta."
3. White Shoes and The Couples Company - Senandung Maaf

Saya bingung banget memilih antara Matahari yang rancak dan kental nuansa Jaya Pura atau Senandung Maaf yang manis dan mendayu, tapi setelah menimbang ini itu dan itu ini, pilihan saya jatuh ke Senandung Maaf. Lagu yang menjadi soundtrack film Janji Joni inilah yang pertama kali mengenalkan saya dengan White Shoes and The Couples Company, dan, ehem, masih sering saya putar dan nyanyikan hingga saat ini. Sewaktu saya mendengarkan lagu ini untuk pertama kali, saya seolah terbang ke La La Land. Musiknya yang manis memang juara, diusung dengan sepercik pengaruh jazz, petikan gitar yang dipadankan dengan bass dan tabuhan drum, serta suara a la tahun 90-an ke bawah yang sedikit-banyak mengingatkan saya akan suara si penyanyi Burung Camar namun dalam versi lebih ringan, hingga tak pernah sanggup membuat saya menolaknya.
2. The Everyday - Surya Kembara

gambar diambil dari: sini
Ini adalah salah satu band indie yang berasal dari Yogyakarta, tempat tinggal saya :) Band beraliran groove dan jazz ini memukau saya lewat penampilan mereka di Ngayogjazz 2011 di Kota Gede, Yogyakarta. Waktu itu, saya tanpa pikir panjang langsung jatuh cinta dengan permainan musik mereka. Usut punya usut, ternyata mereka memiliki akun di reverbnation (buka di sini) yang kala itu baru terisi dua lagu, Let's Do It dan Kembali Rindu. Nah, baru-baru ini, seusai manggung di Ngayogjazz 2012, tersebar sudah single terbaru mereka, Surya Kembara (bisa didapatkan di CD kompilasi Ngayogjazz 2012) yang dalam waktu singkat membuat banyak orang terpikat, tak terkecuali saya. Mendengar lagu ini, saya serasa berada di Ubud atau Bedugul, menggunakan pakaian adat Bali, rambut dikepang ke samping, kamboja putih di telinga kanan, duduk menekuk kaki di depan, lantas menatap purnama utuh lurus berjuta tahun cahaya di atas kepala.
Saya sungguh berharap bahwa band satu ini akan semakin dikenal, mengingat betapa besar talent yang mereka miliki :)
Dan akhirnyaaaa...
1. Frau ft Ugoran Prasad - Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa

Gambar diambil dari: sini
Baiklah, saya akan menulis ulang apa yang sudah saya tuliskan di catatan facebook saya:
"Awalnya lagu ini diciptakan oleh Mas Ugoran Prasad, salah satu sastrawan muda favorit saya, untuk album Anamnesis, yang kemudian dia nyanyikan ulang bersama Frau. Liriknya kuat banget, seperti puisi---bahkan saya punya teori kalau ini memang musikalisasi, lagu yang berasal dari puisi. Ditambah lagi, alunan piano dari Mbak Frau dan suara gothic-nya benar-benar bikin iri."
Itu yang saya tuliskan pada pertengahan November satu tahun silam. Saya sudah mengenal Frau sejak kelas 2 SMA, dan permainan piano serta cara menyanyinya entah mengapa seakan membuat saya seperti terperangkap. Dari semua karyanya, Rat and Cat, Glow, I'm a Sir, Mesin Penenun Hujan, dan lainnya, duetnya dengan Ugoran Prasad memang yang berkarakter paling kuat. Suasana yang ditimbulkan memang gelap, yet pretty alluring. Piano solo Frau sudah ndak sepatutnya diragukan lagi memberi nyawa besar bagi lagu ini, diikuti suara Mas Ugoran yang sekilas terdengar mirip Bebi Romeo. Saking kerennya lagu ini, saya secara langsung menjadikannya sebagai inspirasi salah satu karya pribadi yang berjudul "Saya Mengenalnya Sebagai Jo" yang mengisahkan seorang wanita yang mengenal laki-laki asing bernama Jo, dan dalam kekaburan itu, mereka bercinta lewat cara mereka sendiri, lewat pikiran mereka sendiri di ruang angkasa yang juga mereka bangun sendiri. Cuplikannya kurang lebih seperti ini, "Saya mengenalnya sebagai Jo, begitu saja tanpa tahu nama panjangnya. Bisa jadi Jo adalah comotan pendek dari Paijo, atau Joko, atau Joshua, atau jangan-jangan Jo hanyalah kamuflase yang ia gunakan diam-diam sebab sebenarnya ia bernama Parmin, entahlah, saya tak ingin terlalu paham, karena mungkin saya memang sudah ditakdirkan mengenalnya cukup sebagai Jo."
Jadi, yah, hands down.
****
Bonus: Lagu Indie (Easy-Listening) Dalam Negeri Lain yang Juga Keren
Mind Deer - Humming Song

Monkey to Millionaire - Strange is The Song in Our Conversation

Pure Saturday - Di Bangku Taman

L'Alphalpha - About a Friend

The Milo - Romantic Purple

****
It is cruel, you know, that music should be so beautiful. It has the beauty of loneliness of pain: of strength and freedom. The beauty of disappointment and never-satisfied love. The cruel beauty of nature and everlasting beauty of monotony.Benjamin Britten
sumber: http://mylastpetrichor.blogspot.co.id/2012/12/countdown-10-lagu-indie-easy-listening.html?m=1
Komentar
Posting Komentar